Oleh : pustakaperdu
Mulanya aku
tiada.
Kabut yang rikuh menyambutku; bayi bulan Desember.
Lantas alunan puja kepada paduka sampai ke telinga.
Ketika itu jemari masih enggan terbuka; Ayah bercerita.
Lambat laun aku pun dewasa. Sangat suka menyusun kata-kata.
Suatu hari aku hadiahkan seorang wanita dengan puisi saat ia bertambah tua.
Pernah juga aku hadiahkan kepada seorang teman sebuah puisi saat ia tutup usia.
Sekarang, memberi hadiah puisi kepada semua orang menjadi hal yang lumrah.
Sampai akhirnya, aku tidak merasakan lagi sihir dari kata-kata.
Lindung di beranda, sebuah kalimat yang tidak memiliki makna.
Di luar pagar halaman bahkan sebuah kata kata liar siap menghunus jantung
manusia.
Bagaimana bisa? sebuah kata - kata membuat manusia terluka ? manusia meregang
nyawa?
Hilang di udara, di lautan, atau terkapar di ruas jalan-jalan protokol kota.
Bagaimana bisa?
Sepertinya aku tak tau jawabanya.
Maaf jika selama ini aku tidak menyusun kata - kata perlawanan.
Selain kata - kata cinta aku memang tak punya kepandaian.

0 comments
Tambahkan Komentar Anda