Disambiguasi



Nelangsa Mangsa

Yang berujar di ujung batas nadir.
Tiada genggam yang dibawa abadi.
Aku adalah keputusasaan yang nyata.
Harapan ditinggalkan sebagai jejak.
Kemudian ia hidup menari sendiri.
Monolog…
Aku adalah tawa yang nyata.
Indahnya akan membisu selamanya.
Tanda fana telah berlalu.

(2014)

Sebuah Kejadian

Suatu kejadian bukan hanya tercipta sesaat, ada proses mekanisme perjalanan antar waktu. Waktu dimana hal itu ditetapkan kemudian menanti untuk masuk ke gerbong trans antar waktu menuju stasiun pemberhentian tempat hal itu diwujudkan. Akan ada proses infeksi hal yang ditetapkan dengan proses kerja otak lembik untuk dapat menjadikan sebuah kesaksian bahwa itu sebuah kejadian. Dia sudah ditetapkan dahulu, menunggu, berjalan, dan tiba, namun  butuh keyakinan untuk dapat percaya. Dia kejadian yang menunggu pengakuan.

(2014)

Rindu

Saat aku bergemuh dengan rasa itu.
Tiada banyak yang bisa ku lihat.
Hanya ada satu arah yang ditebarkan dan kulihat kau seperti matahari yang rela memelukku dan mengajarkan kehangatan.
Ini adalah saat dimana aku rela terbelenggu dengan rasa ini.
Rasa yang mereka artikan rindu.

(2014)

Akhir Pemikir, Pemikir Akhir

Ada yang berbeda hari ini, entah mengapa saat aku menyusuri jalan malam tadi aku melihat ada pelangi di setiap lampu bahu jalan. Aku menjadi begitu melankolis hari ini.
Pembicaraan malam ini berhenti kala kami mendiskusikan tentang apa yang akan terjadi setelah kita tiada. Hari ini aku melewati beberapa kejadian untuk menjawab diskusi kami. Aku sangat tertarik dengan cerita kematian seorang pemikir. Hingga  tulisan ini aku buat, aku masih memikirkan suatu hal "Betapa indahnya kematian bagi seorang pemikir, kelebihan yang dia gunakan dengan bijak dari makhluk lain yang perna ada. Bagiku, tiada yang lebih bijak dari pada buah pikir seorang pemikir yang dibawanya sampai mati. Pemikir yang mati sebagai pemikir akhir ." 

(2015)

Terakhir

Semua yang tertulis, akan tetap tertulis.
Walau sudah kau putuskan berhenti.
Tidak kau tulis lagi.
Jangan kau hapus.

(2016)

Di Bangsal Kerinduan

Di sini aku menulisnya.

Teruntukmu yang tercinta.
Seperti puisi yang ku buat pagi ini.
Setiap baitnya begitu jujur.
Walau tak seindah katanya.
Seperti itulah aku bersuara rindu padamu.

Teruntukmu yang tercinta.
Ingin aku mengeluh.
Berharap semua tanyaku akan terjawab.
Seseorang yang selalu mengganggu cara ku berpikir.
Satu yang sangat mendasar akan semua ini, akankah rindu itu kau?

Tiada yang salah jika rindu itu adalah kau.
Pada akhirnya kita akan dihadapkan pada sebuah kebenaran.
Saat ini kau adalah sebuah ketidakwarasan yang bisa secara tiba - tiba hadir di
hadapan ku.
Ketika itu aku merasa kau ada di setiap penjuru pandangan ku.
Ah, mungkin aku hanya teramat merindukanmu.

(2016)

Yang Kutahu

Ada senyum tipis yang coba engkau bahasakan.
Apakah kau masih di situ?
Tempat aku berpikir dan berdiam memandangmu.
Yang tidak ku tahu adalah hatimu.
Dan yang paling jelas ku tahu.
Hanyalah senyummu.

(2016)

Puisi Lama

Masih kah kau melihat langit di kala malam.
Mempertanyakan padanya artinya kelam.
Seberapa banyak titik yang kau lihat padam.
Masih kah langit indah tanpa hiasan alam.
Tidak akan semudah itu kau terima.
Bahwa tiada yang akan kau rasa tanpa cahaya.
Mungkin mereka masih ada yang mengaksara.
Mereka berjalan dengan cahaya padam namun terang cintanya.

(2017)

Bersamamu di Pergantian Usia

Ada yang berbeda di lentera malam ini.
Padam, sampai pagi menjelang.
Hari ini aku riuh mendengar semua bertepuk  tangan.
Sangat bingar, cukup hari ini dan aku menuju malam hanya untukmu.

Malam ini, sebenarnya aku hanya ingin bersuara padamu, hanya kamu yang
berhak. Aku ingin bertalu rindu bersamamu. Malam ini, mungkin do'aku akan
lebih panjang dari malam sebelumnya.
Tentang aku, tentang dia, tentang mereka, tentang langkahku, tentang yang pergi,
tentang yang datang, tentang yang tersisa, dan semua yang butuh untuk engkau
dengarkan saja.

Dengarkanlah, walaupun engkau sudah tahu semua.
Jawablah jika memang itu hak ku.
Tentu semua atas kehendak mu.
Biar padam lentera malam ini, aku masih ingin bersamamu.
Hingga esok menawarkan hal baru untuk ku lewati bersamamu.
Terima kasih sudah memeluk do'a do'aku selama ini.
Atas namamu aku akan berusaha kembali sebagai sebaik baiknya dirimu.

(2017)


Jejak

Rinduku sebatas malam, karena setelah malam berganti dia akan menguap dan menghilang.
Rinduku sebatas malam, tempat aku tatap bintang dan senja yang pamit pulang.
Rinduku sebatas malam sampai sepertiga akhirnya yang menusuk tulang.
Rinduku yang sebatas di kenang. Kemanapun pergi, pamitlah.

(2017)

Berdamai dengan Rindu

Untukmu yang berada di langit malam.
Tidak sedikit cahaya yang kau biarkan padam.
Karena benderang selamanya bukan suratan alam.
Mempersiapkan kata - kata ucapan salam.
Sekedar membasahi dinding mata yang dalam.

Selamat malam rindu.
Engkau yang mendengar lebih atas setiap pertanyaanku.
Menjawab sebagian pertanyaan dan sebagian lagi kau simpan.
Seakan ada keraguan menjawab semua.
Karena pada akhirnya akan terjawab pada waktunya.
Engkau menegaskannya.
Setiap rindu pasti pulang.
Seperti hujan yang pasti turun.
Walau kemarau melanda menahun.

(2017)


Dawai

Yang kamu maksud sabar bukanlah duduk diam dan menunggu. Tapi melangkah
untuk memeluk apapun yang kamu sebut masa depan. Menikmati setiap langkahmu. Perhatikan lah bulan. Ya, bulan bukan duduk diam dan menuggu
waktunya untuk menjadi purnama.

Kalau kamu tidak dapat melihat bunga ketika disekitar mu. Mungkin gelap sedang
menyembunyikannya darimu. Sedang cinta, pasti masih bisa kamu lihat. Meski berulang kali gelap berupaya menyembunyikannya.

Aku tidak perlu menemukan sebuah pintu hatimu. Kalau semua jarak yang sama-sama kita pahami sebagai sekat pembatas itu adalah sebuah kebohongan. Lahir dari apa yang aku sebut sebagai keangkuhan.

Jika kamu laksana matahari yang menghangatkan semua cerita malam di terik siang. Aku ingin kamu sampai pada lautan air mata ku. Agar aku bisa menguap, terbang, melayang, dan bebas. Lupakannya, walau sejenak.

Untuk Perempuan: Kamu begitu mencintai laki-laki itu. Kamu pandai menyimpan laki-laki itu dalam setiap baris do'a mu. Dimana niat dalam kesunyataan hanya kamu yang tahu. Kamu dan Tuhan mu.

Jika cinta adalah luka, kamu salah. Karena sebuah luka akan terus melahirkan luka-luka baru. Cinta itu adalah penyembuh. Sampai tubuhmu melepas rindu kepadanya. Rindu sekali, walau hanya sebatas aromanya.

(2017)

2ksa


Tepat di hadapan mu jarak beberapa meja. Aku sulit mengartikan antara ketenangan yang hingar dan kebisingan yang menyejukkan darimu.

Tepat di hadapan mu jarak beberapa meja. Aku sulit mengartikan antara caramu memeluk ku dan dingin nya udara di ruangan ini yang memaksa aku melepas gulungan lengan kemeja ku.

Tepat di hadapan mu jarak beberapa meja. Aku sulit mengartikan antara caramu mencintaiku dan demam panas yang mendera ku beberapa Minggu yang lalu.

Aku sulit mengartikan apakah kau yang mendekat atau aku yang perlahan terlepas.

(2017)


ISTIRAHATLAH (Lakuna)

Ada yang harus mati berulang kali.
Dari tiada ke wujud tiada yang lain.
Unsur menjelma menjadi partikel.
Kemudian mati menjadi molekul.
Menjadikannya materi yang menempati ruang.
Kemudian mati kembali.

Itu aku.
Mungkin aku bermula dari setangkai bunga.
Lalu mati untuk kemudian lahir sebagai binatang.
Lalu mati untuk kemudian lahir sebagai manusia.
Lalu mati untuk kemudian lahir sebagai malaikat.
Lalu mati untuk kesekian kalinya.
Menjadi bentuk yang masih belum aku pahami.

Entahlah, aku hanya datang dan pergi.
Biar aku datang padamu walau hanya sekali.
Kemudian aku kembali pergi.
Bersama langit jiwaku bersembunyi.
Aku tidak takut kalau harus mati berulang kali.
Meskipun tak ku pahami perihal apa yang terjadi nanti.
Mungkinkah aku akan masih mengingatmu setelah mati ?

Ah Sudahlah,
Istirahatlah
Tutup mataku, sambut mati terdekatku.

(2018)

Arunika

Ada yang tiba - tiba ingin bermimpi menuju pagi ini menjadi seorang pengisi acara di sebuah perayaan. Memetik gitar dan membacakan beberapa baris larik puisinya.

Dialah angan yang menjalar liar dari tempat tidurnya. Dalam perayaan itu, dia mengucapkan selamat kepada gadis yang merayakan hari bahagianya, yang hanya di balas oleh senyum tipis serta pipinya yang tampak kemerahan.

Dialah angan yang mencari jalan keluar dari imajinya. Tak semua orang suka dengan perayaan. Begitu juga dengan nya. Baginya, hadir di acara gadis tersebut hanya untuk dapat mengucapkan do'anya secara langsung. Agar apa yang terlewat memperlakukan matanya dengan baik. Sampai matanya tertutup dan dia pun abadi.

Dialah angan yang tahu diri. Mungkin seperti puisi dan petikan gitarnya, ucapan selamat dan do'anya. Hanyalah sebuah pertunjukan di dalam kepalanya yang tidak pernah ada dalam pesta perayaan sebenarnya. Betapa malangnya ia, saat ia tahu mentari yang sudah hadir berhenti menuliskan kisah mimpi dan angan-nya.

(2018)

Kuning itu dikenang

Engkau yang datang kini serupa petang.
Sebaik kulihat kau hadir sebentar lalu menghilang.
Menyisakan kesempatan untuk bisa ku pandang.
Lalu berlalu untuk segera aku kenang.

Hanya kenangan yang menghampiriku sebagai angin.
Ia memilih diam, membuat suasana menjadi kian dingin.
Dan benar saja, sebab diam tak selamanya saling berbalas ingin.

(2018)

Kulacino

Belum beranjak pergi dan masih disana.
Kau yang di hadapanku berkerudung senja.
Air muka yang coba menyamarkan rahasia.
Entah itu berupa sendu atau senda.
Kau menutup rapat sebisanya.

Sulit bagiku untuk merangkai kata.
Agar ku dengar darimu sebuah kata sapa.
Seperti darah yang mengalir dari luka.
kau yang di sana, bukan hadir secara tiba – tiba.

(2018)



0 comments

Tambahkan Komentar Anda

 
Copyright © 2012 PUSTAKA PERDU ~ Template By : Jasriman Sukri

Kamu bisa menulis deskripsi disini