Catatan Petualang, Catatan Pulang



Catatan Petualang, Catatan Pulang
Oleh : pustakaperdu


Membawa Pulang Petuah


September, seorang petualang membelah perairan Selat Malaka. Ia lebih suka dipanggil seperti itu, seorang petualang. Bukan backpacker, turis, traveler writer, apalagi fotografer. Sebab baginya petualang adalah kegiatan mencari petuah untuk dibawa pulang. Lebih sekedar datang berkunjung lalu pulang.

Di dalam tas ranselnya ada beberapa pertanyaan yang sedang ia cari jawabannya. Lewat beberapa buku yang mungkin akan dijumpai dalam perjalanan. Buku yang tidak terbatas hanya pada lembaran yang ditulis oleh manusia lalu dijilid agar tidak berserak, akan tetapi buku yang mungkin akan dijumpai dalam bentuk visualisasi lainnya, bisa lewat cerita teman seperjalanan atau hal lain yang tidak bisa dijabarkan karena semua serba keterkejutan.

Sedikit mengutip kata–kata seorang teman perjalanannya. “ketika perjalananmu tidak menambah rasa cintamu terhadap penciptamu, maka lebih baik engkau berdiam diri saja di rumah, dan belajar mencintai diri sendiri lebih banyak lagi.”
Dan terakhir, semoga petualang ini menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

(10 September 2019)

Pulang


Selayaknya setangkup gunung pada matamu.
Yang kadang abu-abu, kadang hitam, kadang coklat dan tak jarang terlihat biru.
Ada lembayung menenggelamkan habis diriku.
Kepada dasar palung kelam bernama rindu.
Dan benar saja, itu semua cukup menjadi alasan aku untuk pulang ke hatimu.

(11 September 2019)

Peralihan


Menjelang senja, aku mendapatimu diam semata.
Di dalam kepala, kau berwujud buku yang enggan untuk dibaca.
Kita pun menjadi sepasang kata saja.

Kita pun akan tetap menjadi kata–kata.
Tanpa makna, bila tiada satu pun diantara hati kita yang memulai berbicara.

(11 September 2019)

Menghitung Pagi


Tiada satu kalimat pun yang memulai perbincangan.
Dari anjungan kau melihat masih rembulan yang sama.
Tidak benar-benar purnama. Desau angin meniupkan suara.
Kutemui dia yang istirahat di dalam kepalamu.
Kau pun masih ingat betul kalimat terakhirnya. 

"Berat memang kehilangan. Berpisah dari kenang. Seperti berjalan di titian benang. Tanpa satupun pegangan."   
  
Darimu aku kembali menemukan makna lain dari sebuah kehilangan.
Beberapa dari mereka memaksa ia yang tersayang untuk lebih lama berjuang di tepian ajal.
Hanya karena mereka tidak siap menerima kenyataan kehilangan.

Malam kian menua. Kau pun masih menghitung pagi.

(12 September 2019)

Cinta Hari Ini


Semua bermula dari keresahanmu tentang cinta hari ini.
Satu kali kau bertanya padaku tentang cinta hari ini.
Aku melihat hamparan hutan pada matamu.
Menyerahkan diri untuk dinikmati sekaligus mempertahankan diri untuk dimiliki.
Sayang, yang katanya cinta kepadamu hanya tahu merusak.
Sayang, yang katanya peduli kepadamu hanya tau caranya menguasai.

Terjerembab pada cinta hari ini.
Dimana aku melihat dirimu sebagai seekor burung rentan.
Oleh sebab langkah mereka yang tidak sadar kawasan.
Bersusah payah mencari makan.
Oleh sebab rebahnya beberapa lahan demi sebuah kemajuan.

Tentang cinta hari ini.
Aku melihat dirimu sebagai pohon sebatang kara.
Menggugurkan daunnya sendiri guna membunuh sepi.

Kembalilah cinta hari lalu.
Pulang pada sebuah perayaan senyap.
Dimana cinta saat itu masih terlalu malu.
Hanya menjadi alasan berdekapnya rindu.
Juga menjadi tempat dimana do’a akan berlabuh.

(17 September 2019)

Jelang Malam


Senja nirwana langit Jogja. Mewakili sebuah rasa.
Angin bukit turut menyapu akal dan cara ku menyapa.
Lekas langit ku lukis bulat telur wajahmu, lengkap dengan mata kenari, guratan alis, merah tembaga rambut.
Ku biarkan saja tergerai dan anak rambut menyembul diantaranya.
Mendadak dirimu adalah perempuan tercantik se-gargantua.

Suasana hati seketika sendu rawan.
Aku hanya tahu, melukis wajahmu di langit hanyalah obat penawar rindu.
Sebab dirimu masih sempurna sebuah pertanyaan.
Masih seperti dulu, ketika setiap malamku meminjam namamu sebagai jawabannya.
Dimulai sesaat setelah senja menutup mata.

(jogja, 18 September 2019)

Di Tepi Braga


Trotoar Braga.
Tempat petualang lalu-lalang.
Kutemui serimbun perdu sedang berbunga.
Di dekatnya, seorang pelukis sibuk mengajakku untuk menyaksikan mahakarya-nya.
Apa daya, perhatianku sudah kadung direnggut oleh bunga di tepi Braga itu.
Tahukah kamu, itu adalah saat-saat dimana aku begitu mengingatmu.

Gadis yang tidak butuh gores poles kuas diwajahnya.
Gadis yang membiarkan cantik itu tetap seperti seharusnya.
Gadis yang bukan sekedar mahakarya seorang perupa jalanan.

(20 September 2019)

Senandung Petani


Tampaknya hari ini aku akan tafakur lebih dalam dari hari biasanya.
Lesap pada senandung melalui jemari seorang sahabat pada senar gitar miliknya.
Dia bercerita tentang sebuah dongeng bumantara lama.
Tak habis akal ku menerjemahkan lirik kidungnya.
Semakin menyumbat kepala ketika ku tahu bahwa itu bukan hanya dongeng semata.
Bahwa pada belahan tanah itu akan kau lihat panggung kelana.
Perjalanan yang tak pernah kau duga.

Menelusuri kemarau panjang.
Menapaki jalanan yang pengap.
Wajah yang tak pernah mengering.
Basah bersimbah air mata.
Sebab mendung beberapa kali ingkar, tidak turun membasahi tebing pipi dan ladangnya.

(26 September 2019)

Cita-citaku


Cita-cita sebagai seorang anak desa.
Setelah berhasil sekolah tinggi di kota.
Menggarap sepetak sawah turunan keluarga.
Memenuhi kebutuhan dengan prinsip hidup swasembada.

Di halaman rumah, ku tanam sayur dan buah-buahan.
Di kandang belakang rumah, ku pelihara bermacam-macam piaraan.

Cita-cita sebagai seorang anak desa.
Sederhana saja. Cukup jauh dari belantara kota.
Sederhana saja. Sudikah engkau duhai Nona ?

(1 Oktober 2019)

Di kaki halimun


Malasari begitu anggun hari ini.
Setangkup gunung berselimut kabut putih.
Itu mungkin mengapa orang-orang di sini memanggilnya puncak halimun.
Dan seorang perempuan mengajarkanku tersenyum pada diri sendiri.

Aku masih pada bab petualangan.
Mempercayai dirimu takkan ada di tempat yang jauh.
Aku seorang pemburu masa lalu.
Di inti jantung, ku temukan kamu sedang sibuk berbincang pada seorang yang sangat mirip dengan ku.
Seketika nalarku aktif dari ilusi.
Ini kenangan atau harapan ?

Hari ini aku menemukan persamaan antara mengenangmu dan mengharapkanmu.
“ Kalau aku tidak bisa lagi mengharapkanmu. Kenapa sekedar mengingatmu aku harus kembali sakit ?.”

( 15 Oktober 2019 )
 


  



0 comments

Tambahkan Komentar Anda

 
Copyright © 2012 PUSTAKA PERDU ~ Template By : Jasriman Sukri

Kamu bisa menulis deskripsi disini