Folklore Manusia
Oleh : pustakaperdu
Sudah lama
manusia tidak diajarkan tjinta.
Kata seorang
filsuf dari India.
Seharusnya Alam
dan Manusia hidup saling memelihara.
Bukannya
terpisah entitas dan saling menjajah lantas menindas.
Sejak munculnya
sabda revolusi industri.
Kosmologi timur
mulai berderap tinggi.
Pembangunan
terjadi di sana – sini.
Ras Manusia berubah
menjadi sangat mendominasi.
Berkuasa atas
alam dan semua yang bertumbuh di Bumi.
Dan Bumi. Orang
tua ku dulu pernah bercerita tentang Bumi layaknya seorang Ibu.
Kelak setelah
besar baru aku tahu Ibu itu bernama Pertiwi.
Dari rahimnya
bertumbuh alam tempat wana, satwa, dan juga manusia.
Silih asah,
silih asih, silih asuh. Namun, itu hanya karangan tempo dulu.
Kini semua
tentang komoditi. Melacurkan rahim Ibu demi Investasi.
Keruk sana
- sini. Ekspoloitasi hingga pada akhirnya
berkoar perihal kerisis Ekologi.
Manusia hanya
tau menitipkan prahara, memutarbalikan paradigma. Tak ada urusan perihal
bencana. Asal laba mengalir lancar ke saku celana. Jika nanti ada yang
bersuara, tinggal tembak saja kepalanya. Selesai perkara
manusia.
Dan Manusia.
Sudah lama tidak diajarkan tjinta. Agar menyayangi Bumi seperti Ibunya. Sesederhana
membuang sampah pada tempatnya. Memilah sampah sebelum membuangnya. Mengambil
seperlunya. Menanam sekiranya. Merawat sedianya. Menjadi terang pagi untuk Ibu
pertiwi. Hingga tak perlu lagi Ibu pertiwi bersusah hati.

0 comments
Tambahkan Komentar Anda